Antara Mitos dan Pohon
Antara mitos dan pohon dalam budaya kita sebagai orang Indonesia sangat erat hubungannya. Hampir di setiap budaya memiliki mitos tentang pohon yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberadaan pohon itu sendiri. Satu mitos mampu menimbulkan efek yang berseberangan. Sebagai contoh, kepercayaan yang ada di Jawa dan Bali, beberapa orang atau generasi percaya bahwa sebuah pohon yang besar memiliki “penunggu”. Anda yang di luar Jawa dan Bali juga tentunya pernah mendengar mengenai hal ini bukan? Nah, efek apa yang timbul dalam masyarakat menanggapi mitos ini? Ada baiknya dan tentu ada buruknya.
Dua efek berseberangan yang timbul dari mitos “penunggu” adalah:
Yang pertama adalah efek positif. Terlepas dari kepercayaan apapun, menganggap suatu pohon memiliki penunggu bisa mendorong masyarakat untuk tidak melakukan perusakan terhadap pohon itu sendiri. Masyarakat berpikir akan mendapatkan petaka jika berbuat sesuatu yang buruk terhadap pohon tersebut. Hasilnya, masyarakat jadi takut dengan pohon + penghuninya sehingga pohon tidak akan pernah ditebang.
Yang kedua adalah efek kebalikan dari yang pertama. Masih dengan latar belakang masyarakat yang percaya pohon tertentu “berpenghuni”, namun dengan efek pemikiran yang berbeda, yaitu masyarakat justru ketakutan dengan mitos itu sehingga mereka secara bersama-sama membuat keputusan untuk melakukan penebangan terhadap suatu pohon, ironi. Atau, masyarakat berpikir bahwa jika suatu pohon suatu saat nanti menjadi terlalu besar, maka pohon tersebut akan berpenghuni, jadi mereka harus menebangnya secepatnya sebelum pohon tersebut kedatangan penghuni. Pemikiran seperti ini yang tidak boleh terjadi.
Itulah dua pemikiran yang terjadi dalam masyarakat terutama di Jawa dan Bali. Namun, pemikiran baru mulai berkembang terutama oleh generasi-generasi baru. Mereka mulai berpikir untuk melepaskan hubungan antara mitos dan pohon itu sendiri. Mereka lebih suka melihat pohon sebagai pohon, mahluk hidup, yang baik langsung maupun tidak langsung sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia. Generasi baru tidak melakukan perusakan bukan karena mitos tapi karena mereka tahu pohon sebagai bagian dari kehidupan di Bumi ini. Namun tidak seindah itu, justru perusakan yang dilakukan generasi baru pun lebih parah. Golongan perusak merusak untuk keperluan komoditi, ekonomi, uang dsb dengan ruang lingkup perusakan yang lebih luas dan lebih cepat. Semoga kita tidak menjadi generasi perusak itu, jadilah pahlawan Bumi dengan menyelamatkan pohon dan mahluk hidup lainnya.
Salam Bumi-Hijau
You’re currently reading an entry written by Bumi Hijau
- Published:
- 01.17.12 / 4pm
- Category:
- Environment
- Post Navigation:
- « Reduce, Reuse, Recycle
Atap Hijau »
